Tepi Jaman

Photo0222

Mereka sudah berada di Tepi Jaman atau lebih tepatnya bagian yang akan
dikikis oleh jaman sekarang. Di era 80-an, mereka mampu berjaya
sebagai musisi yang sangat menghibur bagi masyarakat Indonesia,
khususnya wilayah Surabaya. Namun saat ini, mereka hanya mengharapkan
sisa-sisa rejeki (recehan) daripada penikmat musik dan bukan penikmat
musik.

Keroncong sudah di ambang batas jaman, entah karena industri musik
yang membutuhkan banyak sekali perubahan bagi telinga masyarakat
Indonesia saat ini. Pengamen Keroncong seperti mereka tidak lagi
bermain dengan hati tapi demi keleluasan perut, mereka menyadari akan
hal itu. Bukan karena tidak mau berkreasi demi menuruti penggemar masa
kini namun saat hanya keroncong yang dapat mereka dendangkan.

Dari jalan menuju jalan, mereka mendendangkan keroncong yang dapat
dipelajari dan di ingat, bukan ingin menjadi musisi terkenal, mereka
hanya ingin memenuhi kebutuhan hidup bagi keluarganya. Dapat makan
sehari dua kali sangat cukup bagi istri dan anaknya, lalu biaya
pendidikan, kesehatan dan lainnya?

“Sejauh kemana kaki ini melangkah dan seberapa besar belas kasih yang
mereka dapatkan dari penikmat dan bukan penikmat musik keroncong”
jawab mereka dengan tatapan kosong ke bawah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s