Ban Tubeless Pertamaku

Sejak berangkat dari rumah, mengendarai My Lovely Beat (sebutan untuk motor kesayangan), terasa aneh sepanjang perjalanan. Tumben-tumbennya, selalu nyelip (oleng) ke kiri setiap kali melakukan pengereman. Padahal laju motor ini tidak kencang-kencang amat, sekitar 60 km/jam.

“Kayaknya, angin ban belakang sudah berkurang ya?” tanyaku pada istri sambil tetap mengendarai motor.

“Coba minggir dulu mas, diperiksa anginnya!” kata istriku.

Walau jalanan Ibukota sedang sepi (mungkin karena masih pagi dan bertepatan hari libur panjang), lampu sein saia nyalakan ke kiri sebagai indikator pemberitahuan akan berbelok. Sesampainya di pinggir jalan, segera saia cek keadaan ban belakang dan depan. Semuanya normal dan tidak ada yang aneh.

“Aneh? Tekanan angin ban juga tidak berkurang? Tapi kenapa kok miring-miring ke kiri ya?” tanyaku dalam hati.

Dirasa semuanya normal, kami pun melanjutkan perjalanan. Mengingat keanehan pada ban motor, saia pun mengendarai dengan kecepatan yang sangat pelan. Mungkin sekitar 20 km/jam.

Tak sampai 50 meter, tiba-tiba bunyi ban belakang mendesis dan laju perjalanan menjadi oleng ke kanan. Kejadiannya sangat cepat dan alhamdulillahnya, lalu lintas sangat sepi walau masih ada kendaraan bermotor yang melintas.

Walau tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, saia mengkhawatirkan keselamatan istriku. Alhamdulillah, istriku tidak mengalami apa-apa dan tidak kaget dengan kejadian tersebut. Saia pun segera ke pinggir jalan kembali untuk memeriksa kembali.

Ternyata, ban luar di bagian belakang sobek sangat besar. Imbasnya, ban bagian dalam ikutan sobek. Mungkin karena gesekan dengan aspal jalan dan mengakibatkan bunyi mendesis tadi.

Kami istirahat sebentar dan memutuskan untuk mencari tukang tambal ban terdekat. Sekitar 5 menitan kami berjalan, akhirnya ketemu juga tukang tambal ban. Lokasinya dekat pangkalan tukang ojek di daerah kawasan Pancoran.

Sayangnya, menurut analisa tukang tambal ban, tidak bisa diperbaiki alias ditambal. Mau tidak mau, harus ganti ban dalam baru. Untuk ban luar, bisa di akal dengan ‘tambal sulam’ menggunakan ban bekas. Saia mengiyakan dengan catatan minta yang paling murah, karena sifatnya darurat.

Bukan karena pelit untuk membeli ban dalam, namun karena sejak lama ingin mengganti ban-ban ini dengan ban tubeless. Ban yang dirancang tanpa mempunyai ban dalam. Ban yang lebih tahan terhadap benda tajam. Setidaknya, ban udara di dalam ban tidak cepat keluar jika tertusuk paku dan semacamnya.

Setelah semuanya dipasang kembali, saia meminta istri untuk membatalkan niat perjalanan yang semula akan menuju Ciputat. Mengganti jadwal ke kawasan Otista untuk mengganti ban tubeless yang sudah lama saia idamkan. Alhamdulillah, istriku setuju.

Segera kami menuju kawasan Otista, dimana lokasi ini sangat dikenal oleh para pecinta motor (menurut saia). Ketersediaan suku cadang hingga aksesoris kendaraan bermotor di Otista sangat lengkap. Bisa dibilang, kemudahan untuk mendapatkan barang yang diinginkan, tinggal tunjuk doang.

Saia berhenti di salah satu toko ban, yang cukup besar. Dari depan, tampak semua ban dipajang dengan baik, hingga calon pembeli seperti saia bisa memilih dengan mudah. Pemiliknya keturunan Tionghoa, masih muda dan terlihat sangat berpengalaman dalam menjelaskan kelebihan hingga kekurangan semua merek ban tubeless. Intinya, semua itu tergantung harganya. Makin bagus ban tubeless yang diinginkan, biasa makin mahal harganya.

Setelah memberikan banyak penawaran berbagai merek, saia tertarik saat dia menawarkan ban tubeless merk “Mizzle“. Saia tertarik karena namanya yang mudah diingat dan merek ini selalu saia lihat dalam bentuk stiker yang tertempel di setiap angkot jurusan Kalimalang (tempat tinggalku).

Dengan keahliannya sebagai penjual, engkoh ini memberikan banyak penjelasan mengenai ban merek “Mizzle“. Mulai dari alur ‘batikan’ (kembangan) ban yang bisa mencengkeram dengan kuat saat berboncengan, hingga ketahanan saat dipacu dalam kecepatan tinggi. Engkoh ini juga memberikan garansi dari toko-nya selama seminggu jika terjadi kebocoran.

Sayangnya, engkoh kurang mengerti dengan teknologi pembuatannya. Dia memberikan penilaian berdasarkan dari pembeli. Selama ban merek “Mizzle” terjual, tidak pernah ada pembeli yang kembali atau komplain ke tokonya. Entah karena males ke tokonya lagi atau memang ban tersebut sangat bagus, katanya sambil ketawa. Baginya, dia sudah jualan dan sudah mendapat untung dari hasil penjualannya. Sebuah tantangan tersendiri baginya.

Tanpa pikir panjang, saia pancing dengan pertanyaan mengenai perbedaan berat ban biasa dengan ban tubeless. Karena saat saia banding-bandingkan, ban tubeless kayaknya lebih berat daripada ban biasa. Kata engkohnya, karena tambahan inner liner itulah bobot ban tubeless jadi lebih berat. Jadi, harganya juga ikutan berat dibandingkan yang biasa, tambahnya sambil tertawa lebar. Saia pun membalas dengan senyum kecut.

Sebelum mengambil keputusan, saia bertanya kepada istriku untuk memilih ban yang seperti apa? Alhamdulillah, istriku hanya bilang, jika memang pilihanmu itu yang terbaik, dibeli aja. Saia pun segera order dan minta harganya dipaketkan dengan biaya pemasangan. Tidak memperdulikan ban dalam yang baru saja kami beli. Untungnya tadi beli yang murahan. Tanpa menunggu waktu lagi, dengan sigap engkoh ini memerintahkan karyawannya untuk segera mengganti ban-ban yang ada di motor saia.

Dia juga sempat menawarkan, apakah diisi angin biasa atau nitrogen? Karena saia pengen sesuatu yang baru, saia memintanya untuk mengisikan dengan nitrogen. Padahal saia sendiri tidak tahu, apa kelebihan menggunakan nitrogen, hahaha.. Bagi saia saat itu, yang penting ban baru dan isinya nitrogen, bukan angin. Keren kan..? 😀

ganti ban motor tubeless Mizzle

Sekitar setengah jam, pekerjaan pemasangan ban selesai. Saia pun segera menyelesaikan administrasinya. Alhamdulillah, keinginan untuk memiliki ban tubeless kesampaian juga dan ban merek “Mizzle” adalah ban tubeless pertamaku. Dalam perjalanan kembali ke rumah, sambil tersenyum-senyum menikmati kenyamanan ban tubeless ini. Saia bertanya dalam hati, “Mampukah Mizzle, ban impian yang menjawab semua tantangan untuk menyusuri aspal ibukota ini?

Wallahu a’lam.

Iklan

Satu pemikiran pada “Ban Tubeless Pertamaku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s